Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjendikti), Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia telah mengundang semua wakil dari berbagai bidang ilmu yang termasuk dalam pertanian (pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan, teknologi pertanian, dan kedokteran hewan) untuk bersama-sama menyusun KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) atau IQF (Indonesian Qualification Framework) yang akan menjadi Peraturan Presiden (Perpres) pada bulan Maret tahun 2010 ini.
KKNI adalah kerangka kualifikasi yang disepakati secara nasional, disusun berdasarkan suatu ukuran pencapaian proses pendidikan sebagai basis pengakuan terhadap hasil pendidikan seseorang (baik yang diperoleh secara formal, non formal, in formal, atau otodidak). Secara ringkas KKNI ini terdiri dari sembilan level kualifikasi akademik SDM Indonesia dan akan diresmikan dengan Peraturan Presiden.
Hal ini disambut gembira oleh fakultas-fakultas kedokteran hewan se-Indonesia. Selama ini profesi dokter hewan masih dianggap sama dengan teknisi kesehatan hewan. Dengan adanya penjenjangan ini, teknisi kesehatan hewan akan dibedakan dari profesi dokter hewan. Menurut Dekan FKH Universitas Airlangga, Prof. Hj. Romziah Sidik, Ph.D., drh., beliau mengatakan bahwa penjenjangan ini memperjelas status dokter hewan di Indonesia. Kelak, dengan adanya penjenjangan ini profesi dokter hewan diakui sama seperti profesi lain dengan tingkat pendidikan magister. “Ini kan sebagai pengakuan untuk skill yang dimiliki oleh para dokter hewan,” ujar Prof. Romziah.
Sistem penjenjangan kompetensi yang dibentuk oleh Depdiknas ini dimaksudkan untuk membedakan sistem penggajian, jenjang karir, dan sertifikasi profesi. Setiap tingkat pendidikan memiliki jenjang level. Misalnya lulusan D3 memiliki level 4, sementara lulusan sarjana memiliki level 6. Untuk profesi dokter hewan, dokter gigi, dan dokter umum memiliki jenjang level 7 atau sama dengan pendidikan magister. Diknas mengharuskan setiap bidang ilmu untuk menyusun sendiri jenjang-jenjang kompetensinya. Profesi kedokteran hewan juga memiliki kekhususan sendiri untuk penataan, dan penjenjangan tersebut ditentukan oleh Majelis Pendidikan Profesi Kedokteran Hewan (MP2KH).
Melalui KKNI yang nantinya diatur juga dalam Perpres akan ditegaskan bahwa tiap bidang ilmu tidak diatur “gambreng” walau serumpun, seperti yang terjadi di negara kita selama ini. Tetapi masing-masing melalui organisasi profesi bersama dengan institusi pendidikannya. Kedokteran Hewan memiliki kuasa penuh untuk menata sesuai versi dunia yang intelektual dan bercirikan medis. Jadi leveling profesi Kedokteran Hewan (Veteriner) tidak bisa diperbandingkan sama sekali dengan ilmu-ilmu pertanian lainnya, bahkan harus mengacu pada bidang Kedokteran saja.
Viva Veteriner,,,, semoga profesi Kedokteran Hewan di Indonesia menjadi berkibar dan berciri kuat, karena akan diatur dalam Peraturan Presiden.
Selasa, 09 Maret 2010
Minggu, 21 Februari 2010
Filosofi Dibalik Akronim : V.I.S.I (disampaikan dalam “Motivation for Management”, 19 Februari 2010)
Ada sebuah filosofi yang selalu saya sampaikan kepada mereka yang rela mengorbankan waktu, pikiran, finansial,dsb. serta mau lebih lelah daripada yang lainnya untuk sebuah perubahan dan kebaikan yang diperjuangkan, yaitu “Perubahan tidak akan terjadi melalui jumlah kelompok yang banyak, perubahan akan terjadi melalui kelompok yang sedikit jumlahnya tapi KONSISTEN”.
Kondisi, presistensi, konsistensi, dan irama perubahan yang konstan adalah kunci jawaban untuk menciptakan sebuah “long lasting change”.
Ketika kita berbicara tentang perubahan maka ada sebuah perjuangan disitu. Ketika kita melihat bahwa kondisi keprofesian kita butuh sebuah perubahan maka yang bisa kita lakukan adalah “berkontribusi” teman-temanku semua. Berkontribusi dalam medan perjuangan kita, yaitu perjuangan profesi ditingkat mahasiswa. Banyak hal yang bisa kita lakukan, termasuk bagaimana meng-upgrade potensi diri kita untuk menjadi pribadi tangguh dokter hewan di masa depan , sedini mungkin!. Sehingga kelak mimpi-mimpi kita, juga mimpi-mimpi para pendahulu kita akan kondisi profesi kedokteran hewan, di Indonesia khususnya, bisa sukses terealisasikan.
Jika ditanya soal mimpi, pasti teman-teman memiliki deskripsi masing-masing tentang mimpi; masa depan, harapan, arahan, cita-cita, tujuan hidup, yang harus dicapai, dsb. Tidak terlepas dari itu semua, mimpi adalah visi teman-teman… Karena MIMPI adalah VISI..!
Salah satu ciri dari pemimpin yang baik adalah pemimpin-pemimpin yang visioner, pemimpin-pemimpin yang memiliki visi. Kemudian ‘menjual’ visi itu kepada para anggotanya, dan dengan seni kepemimpinannya yaitu bagaimana menjadi “power of influence” barisannya diajak untuk bersama-sama bergerak sesuai dengan tujuan, sesuai dengan visi yang dicita-citakan. Lalu apa visi-mu kawan? Sudahkah kau memilikinya?
Kesuksesan dalam mewujudkan impian atau visi merupakan sebuah proses perjuangan yang penuh dengan ujian dan tantangan. Banyak orang yang menyerah ditengah jalan, menyerah ditengah perjuangan, sebelum mereka melihat hasilnya. Sehingga usaha yang telah dirintisnya selama ini hanya sia-sia dan membuang waktu belaka. Karena itu, kesuksesan dalam “long lasting change” menuntut kegigihan dan pantang menyerah.
Thomas Alfa Edison mengatakan bahwa; “Banyak orang gagal karena tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan kesuksesan ketika mereka menyerah”.
Pepatah berkata, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Perjalanan seratus mil dimulai dari langkah pertama. Jika jelas VISI kita, tepat, dan siap memperjuangkannya dengan penuh SEMANGAT dan KEYAKINAN yang berlandaskan KEIKHLASAN, akhirnya pasti akan tercapai : “Membentuk generasi madani kedokteran hewan yang profesional dan unggul dalam kompetensinya”…………….pun mimpi-mimpi lain yang jauh lebuh besar. Mimpi-mimpi kita akan profesi, tentang Indonesia di masa depan, dsb. Viva Vets!
Kondisi, presistensi, konsistensi, dan irama perubahan yang konstan adalah kunci jawaban untuk menciptakan sebuah “long lasting change”.
Ketika kita berbicara tentang perubahan maka ada sebuah perjuangan disitu. Ketika kita melihat bahwa kondisi keprofesian kita butuh sebuah perubahan maka yang bisa kita lakukan adalah “berkontribusi” teman-temanku semua. Berkontribusi dalam medan perjuangan kita, yaitu perjuangan profesi ditingkat mahasiswa. Banyak hal yang bisa kita lakukan, termasuk bagaimana meng-upgrade potensi diri kita untuk menjadi pribadi tangguh dokter hewan di masa depan , sedini mungkin!. Sehingga kelak mimpi-mimpi kita, juga mimpi-mimpi para pendahulu kita akan kondisi profesi kedokteran hewan, di Indonesia khususnya, bisa sukses terealisasikan.
Jika ditanya soal mimpi, pasti teman-teman memiliki deskripsi masing-masing tentang mimpi; masa depan, harapan, arahan, cita-cita, tujuan hidup, yang harus dicapai, dsb. Tidak terlepas dari itu semua, mimpi adalah visi teman-teman… Karena MIMPI adalah VISI..!
Salah satu ciri dari pemimpin yang baik adalah pemimpin-pemimpin yang visioner, pemimpin-pemimpin yang memiliki visi. Kemudian ‘menjual’ visi itu kepada para anggotanya, dan dengan seni kepemimpinannya yaitu bagaimana menjadi “power of influence” barisannya diajak untuk bersama-sama bergerak sesuai dengan tujuan, sesuai dengan visi yang dicita-citakan. Lalu apa visi-mu kawan? Sudahkah kau memilikinya?
Kesuksesan dalam mewujudkan impian atau visi merupakan sebuah proses perjuangan yang penuh dengan ujian dan tantangan. Banyak orang yang menyerah ditengah jalan, menyerah ditengah perjuangan, sebelum mereka melihat hasilnya. Sehingga usaha yang telah dirintisnya selama ini hanya sia-sia dan membuang waktu belaka. Karena itu, kesuksesan dalam “long lasting change” menuntut kegigihan dan pantang menyerah.
Thomas Alfa Edison mengatakan bahwa; “Banyak orang gagal karena tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan kesuksesan ketika mereka menyerah”.
Pepatah berkata, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Perjalanan seratus mil dimulai dari langkah pertama. Jika jelas VISI kita, tepat, dan siap memperjuangkannya dengan penuh SEMANGAT dan KEYAKINAN yang berlandaskan KEIKHLASAN, akhirnya pasti akan tercapai : “Membentuk generasi madani kedokteran hewan yang profesional dan unggul dalam kompetensinya”…………….pun mimpi-mimpi lain yang jauh lebuh besar. Mimpi-mimpi kita akan profesi, tentang Indonesia di masa depan, dsb. Viva Vets!
Rabu, 10 Februari 2010
Porsi Peran VISI dalam Fungsi IMAKAHI
IMAKAHI melaksanakan fungsinya secara khusus melalui empat bidang eksekutif yaitu Kebijakan Profesi sebagai pelaksana fungsi Kajian, Kominfo sebagai pelaksana fungsi Komunikasi dan Informasi, lalu Kaderisasi sebagai plaksana fungsi pembinaan, kemudian bidang Zoonosis, Litbang, dan Pengmas sebagai pelaksana fungsi Penelitian (dan pengembangan) serta Pengabdian kepada Masyarakat.
Dalam hitungan 100% maka masing-masing bidang memiliki porsi yang sama dalam melaksanakan fugsinya yaitu 25% sebagai angka maksimal. Sehingga ketika semua bidang mampu berperan secara optimal, tidak akan ada lagi anggapan satu atau dua bidang mendominasi bidang yang lain, karena porsinya sama(25%). Dan harus dipahami bahwa pengurus tidak bergerak atas nama bidang yang diampunya, tetapi atas nama IMAKAHI
Berdasarkan hal tersebut di atas, bidang Kaderisasi dalam melaksanakan fungsi pembinaan membagi kedalam tiga kegiatan utama yaitu VISI, Recruitment, dan Up Grading pengurus. Presentasenya kurang lebih 15% : 5% : 5%. Artinya, hal ini menegaskan bahwa VISI hanya merupakan bagian kecil dari pelaksana fungsi IMAKAHI (15% dari 100%). Tentu dengan catatan semua bidang mampu melaksanakan perannya secara optimal.
Berikut adalah PROPOSAL VISI sebagai pilot project, untuk rekan-rekan semua para aktivis IMAKAHI se-Indonesia. Minimal menjadi bahan kajian dan referensi pergerakan, menginspirasi serta menularkan semangat. Untuk berjuang atas nama profesi, karena VISI merupakan salah satu bentuk realisasi perjuangan profesi yang dapat dilakukan sepenuhnya di tingkat mahasiswa. Viva Vets!
Proposal VISI IMAKAHI IPB
Dalam hitungan 100% maka masing-masing bidang memiliki porsi yang sama dalam melaksanakan fugsinya yaitu 25% sebagai angka maksimal. Sehingga ketika semua bidang mampu berperan secara optimal, tidak akan ada lagi anggapan satu atau dua bidang mendominasi bidang yang lain, karena porsinya sama(25%). Dan harus dipahami bahwa pengurus tidak bergerak atas nama bidang yang diampunya, tetapi atas nama IMAKAHI
Berdasarkan hal tersebut di atas, bidang Kaderisasi dalam melaksanakan fungsi pembinaan membagi kedalam tiga kegiatan utama yaitu VISI, Recruitment, dan Up Grading pengurus. Presentasenya kurang lebih 15% : 5% : 5%. Artinya, hal ini menegaskan bahwa VISI hanya merupakan bagian kecil dari pelaksana fungsi IMAKAHI (15% dari 100%). Tentu dengan catatan semua bidang mampu melaksanakan perannya secara optimal.
Berikut adalah PROPOSAL VISI sebagai pilot project, untuk rekan-rekan semua para aktivis IMAKAHI se-Indonesia. Minimal menjadi bahan kajian dan referensi pergerakan, menginspirasi serta menularkan semangat. Untuk berjuang atas nama profesi, karena VISI merupakan salah satu bentuk realisasi perjuangan profesi yang dapat dilakukan sepenuhnya di tingkat mahasiswa. Viva Vets!
Proposal VISI IMAKAHI IPB
Rabu, 06 Januari 2010
Laporan VISI 2009
. Sejak diluncurkan pada tanggal 9 Mei 2009, VISI telah melaksanakan 6 kali In House Training, 1 kali kunjungan lapang/field trip, dan outbound. Kemudian diakhiri dengan ujian kelulusan siswa dan ditutup dengan sebuah studium general pada tanggal 19 Desember 2009. Sebagai sebuah pilot project, VISI akan direkomendasikan untuk bisa dilaksanakan juga di tiap cabang IMAKAHI FKH se- Indonesia. Berikut Laporan Pertanggungjawaban kami selama berkarir dalam VISI CORPORATION tahun ini :
http://www.ziddu.com/download/8049910/LPJVISIOK.
http://www.ziddu.com/download/8049910/LPJVISIOK.
Untuk Direktur Bisnis dan Kemitraan: Usulan program BIRD dalam RKAT KM 2010
Nama : BIRD (Business and Relations Development) Program
Deskripsi :Program pengembangan bisnis dan kemitraan dalam bentuk pembinaan dan pengembangan kualitas para wirausaha muda mahasiswa. BIRD menyelenggarakan pelatihan dan pembinaan kepada wirausaha muda mahasiswa dalam mengembangkan aspek kewirausahaan dengan menghadirkan pengajar–pengajar yang ahli di bidangnya.
Tujuan : Meningkatkan dan memberdayakan potensi kewirausahaan mahasiswa secara kolektif menuju kampus berkarakter kewirausahaan IPB Mandiri 2020
Indikator uraian
a. Input : Wirausaha muda mahasiswa, lembaga-lembaga pelatihan kewirausahaan
b. Output : Wirausaha muda mahasiswa yang lebih matang dan siap bersaing (entrepreneur berkarakter leader)
c. Manfaat : Peningkatan kualitas sumberdaya manusia bidang kewirausahaan dan terjalin hubungan baik (kemitraan/good relations) diantara para wirausaha muda mahasiswa khususnya, serta dengan stakeholders terkait.
d. Dampak langsung :meningkatnya kualitas, pelaku, dan jaringan bisnis
e. Dampak tidak langsung :terciptanya atmosfer kewirausahaan yang kondusif termasuk sistem pembinaannya di lingkungan IPB.
Target
a. Kuantitatif : Jumlah wirausaha muda mahasiswa dan stakeholders terkait yang terlibat secara langsung
b. Kualitatif : Pemahaman konsep entrepreneur berkarakter leader , serta aplikasinya dalam kehidupan
Dana
a. DIPA : Rp 0,-
b. Non DIPA : Rp 20.000.000,-
Catatan : silakan dikoreksi.
Deskripsi :Program pengembangan bisnis dan kemitraan dalam bentuk pembinaan dan pengembangan kualitas para wirausaha muda mahasiswa. BIRD menyelenggarakan pelatihan dan pembinaan kepada wirausaha muda mahasiswa dalam mengembangkan aspek kewirausahaan dengan menghadirkan pengajar–pengajar yang ahli di bidangnya.
Tujuan : Meningkatkan dan memberdayakan potensi kewirausahaan mahasiswa secara kolektif menuju kampus berkarakter kewirausahaan IPB Mandiri 2020
Indikator uraian
a. Input : Wirausaha muda mahasiswa, lembaga-lembaga pelatihan kewirausahaan
b. Output : Wirausaha muda mahasiswa yang lebih matang dan siap bersaing (entrepreneur berkarakter leader)
c. Manfaat : Peningkatan kualitas sumberdaya manusia bidang kewirausahaan dan terjalin hubungan baik (kemitraan/good relations) diantara para wirausaha muda mahasiswa khususnya, serta dengan stakeholders terkait.
d. Dampak langsung :meningkatnya kualitas, pelaku, dan jaringan bisnis
e. Dampak tidak langsung :terciptanya atmosfer kewirausahaan yang kondusif termasuk sistem pembinaannya di lingkungan IPB.
Target
a. Kuantitatif : Jumlah wirausaha muda mahasiswa dan stakeholders terkait yang terlibat secara langsung
b. Kualitatif : Pemahaman konsep entrepreneur berkarakter leader , serta aplikasinya dalam kehidupan
Dana
a. DIPA : Rp 0,-
b. Non DIPA : Rp 20.000.000,-
Catatan : silakan dikoreksi.
Senin, 30 November 2009
VISI Advance Outbond
Siswa VISI (Veterinary Integrity and Skill Improvement) merupakan sumberdaya manusia kedokteran hewan yang sedang ditingkatkan kualitas dirinya, baik secara individual maupun kelompok, melalui pelatihan-pelatihan yang mengembangkan karakter kepemimpinan dan pengetahuan keprofesian menuju terciptanya generasi madani kedokteran hewan yang lebih profesional dan unggul dalam kompetensinya. Pelatihan-pelatihan VISI tidak hanya dilakukan di dalam ruangan (indoor) tetapi juga di luar ruangan (outdoor), seperti halnya kunjungan lapang dan outbound. Setelah melalui berbagai pelatihan sejak bulan Mei sampai Oktober 2009, akhirnya pada 29 November 2009 VISI sampai pada agenda pelatihannya yang terakhir tahun ini, yaitu “VISI Advance Outbound”.
Pelatihan dengan media alam terbuka, dalam hal ini adalah outbound, saat ini sedang berkembang karena telah terbukti dapat mengubah pola pikir (reengineering of mind set) manusia, antara lain mengenai pengenalan diri dan lingkungan, jiwa kepemimpinan, hubungan antarmanusia, dan akhirnya adalah terbentuknya tim yang solid. Pelatihan alam terbuka menuntut peserta mencoba keberanian untuk meninggalkan teori-teori, lepas dari ruang dan batasan-batasan formal yang seringkali menghambat kreativitas dan menutup jalan untuk membuka diri bagi suatu perubahan.
Kali ini Manajemen VISI bekerjasama dengan GALAXY Learning Center, sebuah lembaga bidang pengembangan sumberdaya manusia yang memfasilitasi suatu program-program pelatihan yang menitikberatkan pada personal development dan team development. Pengembangan yang dilakukan berupa pengembangan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan moral.
Dalam pelaksanaannya, siswa VISI dibagi ke dalam dua kelompok yaitu kelompok laki-laki dan perempuan. Masing-masing kelompok melakukan permainan-permainan seru antara lain; Fun Games, Water Control, Nine Box, Two Lines Bridge, Balance Beam, dan Electric Box. Ada lima tujuan besar yang ingin dicapai secara kolektif melalui permainan-permainan ini, yaitu; 1)Membangun integritas, 2)Membangun kebersamaan, 3)Mengembangkan kreativitas, 4)Meningkatkan transparasi/keterbukaan/kejujuran, dan 5)Membangun kepemimpinan.
Perkembangan IMAKAHI sebagai sebuah organisasi sangat tergantung pada sistem yang dipakai dan kualitas sumber daya manusianya (kondisi dan karakter setiap individu yang terlibat didalamnya). Sebaik apapun sistem yang dimiliki tanpa kualitas SDM yang baik maka organisasi tersebut akan mengalami hambatan untuk maju. Bagaimana pola pikir, perilaku dan kerjasama yang terjadi dalam sebuah tim sangat memegang peranan dalam pembentukan efektifitas dan performa organisasi tersebut. Oleh karena itu, perlu adanya sebuah manajemen yang dapat memfasilitasi kebersamaan diantara para individu agar dapat berinteraksi dan bersinergi sehingga kebersamaan tersebut dapat menjadi sumberdaya yang memiliki potensi yang berkekuatan sangat besar.
Pelatihan dengan media alam terbuka, dalam hal ini adalah outbound, saat ini sedang berkembang karena telah terbukti dapat mengubah pola pikir (reengineering of mind set) manusia, antara lain mengenai pengenalan diri dan lingkungan, jiwa kepemimpinan, hubungan antarmanusia, dan akhirnya adalah terbentuknya tim yang solid. Pelatihan alam terbuka menuntut peserta mencoba keberanian untuk meninggalkan teori-teori, lepas dari ruang dan batasan-batasan formal yang seringkali menghambat kreativitas dan menutup jalan untuk membuka diri bagi suatu perubahan.
Kali ini Manajemen VISI bekerjasama dengan GALAXY Learning Center, sebuah lembaga bidang pengembangan sumberdaya manusia yang memfasilitasi suatu program-program pelatihan yang menitikberatkan pada personal development dan team development. Pengembangan yang dilakukan berupa pengembangan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan moral.
Dalam pelaksanaannya, siswa VISI dibagi ke dalam dua kelompok yaitu kelompok laki-laki dan perempuan. Masing-masing kelompok melakukan permainan-permainan seru antara lain; Fun Games, Water Control, Nine Box, Two Lines Bridge, Balance Beam, dan Electric Box. Ada lima tujuan besar yang ingin dicapai secara kolektif melalui permainan-permainan ini, yaitu; 1)Membangun integritas, 2)Membangun kebersamaan, 3)Mengembangkan kreativitas, 4)Meningkatkan transparasi/keterbukaan/kejujuran, dan 5)Membangun kepemimpinan.
Perkembangan IMAKAHI sebagai sebuah organisasi sangat tergantung pada sistem yang dipakai dan kualitas sumber daya manusianya (kondisi dan karakter setiap individu yang terlibat didalamnya). Sebaik apapun sistem yang dimiliki tanpa kualitas SDM yang baik maka organisasi tersebut akan mengalami hambatan untuk maju. Bagaimana pola pikir, perilaku dan kerjasama yang terjadi dalam sebuah tim sangat memegang peranan dalam pembentukan efektifitas dan performa organisasi tersebut. Oleh karena itu, perlu adanya sebuah manajemen yang dapat memfasilitasi kebersamaan diantara para individu agar dapat berinteraksi dan bersinergi sehingga kebersamaan tersebut dapat menjadi sumberdaya yang memiliki potensi yang berkekuatan sangat besar.
Selasa, 10 November 2009
Berbagi dari Praktikum Kastrasi, Semoga Bermanfaat.




OPERASI
Sebelum operasi, dilakukan pemeriksaan fisik (PE) terlebih dahulu untuk mengetahui kondisi normal hewan yang akan dioperasi. Hasil pemeriksaan PE dicatat pada tabel protokol bedah. Setelah itu hewan diberi premedikasi berupa atropin dengan rute subcutan 10 menit sebelum diberikan anastesi umum. Selanjutnya anastetikum campuran xylazine dan ketamine diberikan dengan cara injeksi intramuscular.
Kucing yang sudah dibius dan dicukur pada area yang akan dioperasi diposisikan di atas meja operasi. Proses penyayatan kulit dilakukan dengan hati-hati menggunakan silet operasi khusus(blade) yang sangat tajam, sayatan + 1 cm. Metode yang digunakan adalah kastrasi terbuka, sehingga dilakukan penyayatan pada scrotum, tunika dartos, dan tunica vaginalis. Setelah terlihat, testis ditarik keluar, lalu salurannya diikat dengan benang. Agar kuat, sebelum diikat benang difiksir dengan menggunakan jarum dan sedikit dikaitkan pada saluran testis. Kemudian saluran yang telah terikat tadi dipotong dengan gunting. Setelah testis berhasil diangkat, diberikan antibiotik penicillin secara topikal dan dilakukan penjahitan pada area yang terbuka tadi dengan menggunakan benang cat gut 1-3 jahitan. Antibiotik Oxytetrasiklin disuntikkan dengan rute intramuskular. dosis Oxytetrasiklin yang diberikan adalah 14 mg/ kg BB.
Bekas jahitan dibersihkan dari darah sehingga meminimalisasi terjadinya infeksi oleh bakteri. Pembersihan dilakukan dengan menggunakan larutan hidrogen peroksida, selanjutnya bekas jahitan diteteskan povidone iodine.
PEMBAHASAN
Kastrasi dalam bahasa kedokteran sering disebut sengan neuter atau orchidektomi. Orchidektomi merupakan sebuah prosedur operasi/ bedah dengan tujuan membuang testis hewan. Kastrasi ini dilakukan pada hewan jantan dalam keadaan tidak sadar (terbius umum).
Kucing yang akan dikebiri harus dalam keadaan sehat. Sebagian besar kucing dikastrasi ketika berumur sekitar 5-8 bulan. Para ahli perilaku hewan menyarankan melakukan kastrasi pada kucing sebelum memasuki masa puber, karena dapat mencegah munculnya sifat/ perilaku kucing yang tidak dinginkan. Kucing yang dikastrasi pada praktikum ini berumur 7 bulan, sehingga masih dalam kriteria cocok atau ideal untuk dilakukannya kastrasi. Beberapa organisasi yang peduli dengan overpopulasi kucing di Amerika bahkan melakukan kastrasi lebih awal pada kucing. Kucing-kucing tersebut telah dikastrasi pada umur 6 - 14 minggu. Kastrasi tidak mempengaruhi pertumbuhan badan kucing-kucing tersebut. Secara umum tindak kastrasi justru meningkatkan berat badan kucing atau cenderung menyebabkan obesitas, hal ini dapat dilihat dalam jangka panjang yang tidak dapat diamati dalam waktu 5 hari post operasi. Kegemukan atau obesitas ini terjadi karena adanya perubahan metabolisme hormon setelah kastrasi yang menyebabkan kucing tidak lagi agresif dan lebih suka diam/ tidur. Sehingga akibat yang sering terjadi setelah kastrasi adalah kegendutan/ obesitas. Masalah ini bisa dicegah dengan mengontrol diet dan sering mengajak kucing bermain. Bermain dengan kucing menyebabkan kucing bergerak lebih banyak dan membakar cadangan lemak yang berlebih.
Metode kastrasi yang digunakan dalam praktikum ini adalah kastrasi terbuka. Kastrasi terbuka artinya melakukan tindak bedah(kastrasi) dengan menyayat seluruh lapisan, mulai dari kulit/ scrotum, sampai tunika dartos dan tunika vaginalis, hewan berada di bawah pengaruh anastesi. Penambahan anastesi terjadi 1 kali karena kucing terbangun di pertengahan operasi.
Pada kastrasi terbuka akan memperlihatkan adanya pembuluh darah-pembuluh darah testis dan kemudian diikat, dipisahkan dari duktus deferren. Metode kastrasi terbuka digunakan karena dinilai lebih aman untuk dilakukan, dibandingkan dengan metode yang tertutup. Metode kastrasi tertutup memiliki kemungkinan untuk lepasnya ikatan lebih besar sehingga berpotensi menyebabkan terjadinya pendarahan. Monitoring post operasi juga menunjukkan hal yang tidak bersifat merugikan ataupun berakibat buruk baik dari segi pernafasan, sirkulasi darah (jantung), dan temperatur selama 5 hari.
Banyak keuntungan dari melakukan tindak kastrasi kucing jantan lebih awal (sebelum masa puber). Risiko timbulnya berbagai penyakit yang berhubungan dengan hormon testosteron yang dihasilkan testis dapat diperkecil dengan tindakan kastrasi. Testosteron adalah hormon yang dihasilkan oleh testis, hormon ini mempengaruhi banyak pola-pola perilaku pada kucing jantan termasuk perilaku agresif, sehingga kastrasi juga dapat membuat berkurangnya sifat/perilaku agresif ini dan membuat kucing cenderung lebih manja.
Beberapa keuntungan lainnya yaitu kastrasi mencegah kelahiran anak kucing yang tidak diinginkan. Selain menjaga populasi kucing tetap terkendalikan, tindakan ini juga memungkinkan pemilik kucing bisa merawat kucing-kucingnya dengan maksimal.
Aspinall (2006) juga menyatakan bahwa indikasi dari kastrasi bervariasi. Biasanya untuk mencegah beranak dan mengembara atau untuk mencegah perilaku jantan yang agresif.
Kucing betina yang sedang birahi mengeluarkan feromon yang dapat menyebar melalui udara. Feromon ini dapat mencapai daerah yang cukup jauh. Kucing jantan dapat mengetahui dimana letak kucing betina yang sedang birahi melalui feromon ini, lalu kemudian mencari dan mendatangi sang betina meskipun jaraknya cukup jauh. Kucing jantan yang telah dikastrasi cenderung tidak bereaksi terhadap feromon ini dan lebih suka diam di dalam rumah
Keuntungan lain dilakukannya tindak kastrasi yaitu jarangnya kucing terluka akibat berkelahi dengan kucing lain. Semakin jarang terluka semakin kecil juga kemungkinan terkena penyakit yang dapat menular melalui luka/ kontak. Beberapa kucing dikastrasi karena mempunyai/membawa cacat genetik. Diharapkan kucing-kucing cacat tersebut tidak dapat lagi berkembang biak, sehingga jumlah kucing-kucing cacat dapat dikurangi.
Banyak sekali penyakit klinis pada alat kelamin jantan yang dapat diatasi dengan tindak kastrasi. Beberapa diantaranya adalah tumor scrotum, edema scrotum, monorchid, cryptorchid, orchitis, epididimitis, prostatitis, phimosis, paraphimosis, veneric sarcoma, dll.
Menurut Slatter (2003), treatment yang bisa dilakukan untuk mengurangi ukuran prostat untuk meringankan gejala pada obstruksi saluran pelvis antara lain yang disarankan adalah kastrasi. Involusi permanen dari prostat dan mengobati gejala klinis yang terjadi dalam 2 atau 3 minggu. Hewan-hewan yang dikastrasi mungkin perlu dipertimbangkan pemberian terapi androgen atau estrogen.
DAFTAR PUSTAKA
Aspinal, Victoria. 2006. The Complete Textbook of Veterinary Nursing. Butterworth Heinemann: ELSEVIER.
Melches, Susanne, et al.2007. Castration of lamb: A welfare comparison of different castration techniques in lambs over 10 week of age. The Veterinary Journal. ELSEVIER.
Micol, D, et al. 2009. Effect of Age Castration on Animal Performance, Muscle Characteristics and Meat Quality Traits in 26-month-old Charolais Streers. Livestock Science. ELSEVIER
Price, J, et al.2005. Current Practice Relating to Equine Castration in the UK. Research in Veterinary Science. ELSEVIER.
Slatter, DH. 2003. Textbook of Animal Surgery. Philadelpia: WB Saunders.
http://www.kucingkita.com/modules.php?name=Sections&op=viewarticle&artid=129
Langganan:
Postingan (Atom)
